Maafkan

Maafkan

Oleh Penulis Misterius (T)Perlahan aku belajar membakar ingatan membiarkan waktu dengan kejam mengikis kenangan agar sedih cepat hilang. 

Aku tetap mencintai kamu, seandainya hari tak pernah berlalu. Selalu, aku ingin menjadi mimpi indah yang kamu inginkan, seperti halnya aku ingin menjadi cahaya yang membuat kamu melihat jalan terang. Tapi jika sebaliknya maka aku pantas mendapatkan kepergianmu. Menjadi mimpi dan menjadi sekejap cahaya dalam duniamu. 



Hanya... suatu hari aku mengharapkan kebahagiaan walau sendirian, biar saja nafas terengah tapi aku tak perlu berlari lagi untuk mengejarmu. Karna dengan sendirinya, waktu akan membawaku terlanjur melupakanmu dan akan mengajakku berlari jauh mendahuluimu.

Aku tetap mencintai kamu, seandainya bumi berhenti berputar. Berkali-kali, aku ingin jadi bulan yang tiap malam menjadi cahaya gelapmu, seperti halnya aku ingin menjadi mentari yang membuat kamu merasa hangat disetiap pagi. Tapi jika sebaliknya maka aku pantas mendapatkan kehilanganmu. Menjadi bulan yang termakan awan dan menjadi mentari yang mendung.

Maafkan aku... karna suatu hari yang aku nantikan, adalah hari ini!!! Hari disaat aku dan kamu bukan lagi kita.



Asal Kau Tak Menangis

Asal Kau Tak Menangis
Seperti kau ketahui bagaimana pelangi ada karna hujan turun, atau abu karna ada api. Tapi sebelum kau pahami. Mengertilah bahwa segala sesuatu punya alasannya sendiri. Jangan bertanya mengapa terang itu siang, gelap itu malam. Karna berkali-kali pun, jawabannya tetap satu, ALASAN. Karna Tuhan punya alasan untuk menjadikannya satu. Bahkan saat kau mampu, kau tak akan pernah memiliki. Sebab Tuhan tak memberimu alasan untuk menemukan. Keberpihakan yang akan mengantarmu pada seseorang yang indah bahkan lebih dari mimpi dan hayal yang pernah kau idamkan.

Memang kau akan tetap bahagia. Tapi sesungguhnya kau akan menemui luka disetiap jalannya. Karna diantara bahagia akan ada luka. Sebagaimana mawar indah yang berduri, makin kau genggam, makin kau terluka, makin kau lepas, makin kau lega. Begitu lah adanya, jika kau terjebak dalam cinta, maka kau akan terjebak juga dalam cerita. Dan dalam setiap cerita punya makna yang tak bermuara. Kau tak bisa menghentikan tapi kau bisa mengakhiri. Sejauh apa pun berjalan, pada akhirnya yang kau jaga bukan lagi cintanya tapi kenangannya. Sebelum indah itu menghilang, sebelum tawa itu memudar, asal kau tak menangis, temukanlah jalan pulang dan katakanlah, "aku ingin disisi yang Maha Cinta bukan yang hanya cinta."

Kamu Rahasiaku

Kamu Rahasiaku

Oleh penulis misterius - Aku belajar menyembunyikan kamu sangat dalam dihatiku. Agar rasa ini tetap pada keterjagaannya. Aku tak pernah berharap bahkan sangat. Tapi pada suatu saat, kamu akan menyadari dan melihat seseorang yang akan meneteskan keringat dan airmatanya  hanya untuk membuatmu tersenyum. Bila hari itu tiba kamu akan melihat aku, yang menyembunyikan kamu dihatinya.

Layu

Layu
Antara kita, aku atau pun kamu. Waktu akan membawa salah satu dari kita untuk mencari jalannya sendiri. Dunia baru yang tak mengenal kekecewaan atau dunia yang sama tapi dengan penghuni yang berbeda. Keegoisan membuat kita kalah, menyerah untuk berpisah. Tapi apakah dengan kekalahan, kita benar akan menemukan sesuatu yang baru? sesuatu yang kita anggap tempat dimana kita akan bahagia tanpa bersama. Apakah kenangan hanya akan menjadi sampah yang terbuang? bahkan jika kita sama-sama membakarnya ia tetap akan menyisakan abu yang akan membuat kita tau bahwa tak ada yang bisa menghilangkannya sekali pun kita menghindari.

Aku masih mencari hatimu, berharap sesuatu yang tersisa didalamnya bisa menjadi muara dimana aku akan masuk untuk kali kedua. Tapi ketidakpastian selalu menjadi musuh terbesar hatiku. Seharusnya kamu tau bahwa cinta adalah kesepakatan antara aku dan kamu. Tapi kita mengingkarinya. Lari membuat kita saling membenci bahkan saling tak peduli. Seharusnya kita meyakini bahwa bahagia itu sederhana, saling mencinta dan setia. Tapi kita berpaling darinya. 

Akhirnya, waktu berwujud dan menjadi pemisah aku dan kamu. Dan kembali aku hanya jadi seorang pemimpi yang berharap bahwa kenyataan bukanlah kenyataan. Suatu hari nanti entah aku yang kembali atau seorang pengganti yang menjadi dunia baru dalam hidupmu. Semoga kita tak layu seperti bunga.

Ibu, Aku Mencintaimu

Ibu, Aku Mencintaimu

“Kaulah ibuku cinta kasihku, terima kasihku takkan pernah terhenti, kau bagai matahari yang selalu bersinar, sinari hidupku dengan kehangatanmu.”
Aku tak sanggup lagi bersuara, lagu yang berjudul ‘Ibu’ benar-benar menghentikan nafasku. 
Jantungku berdebar setelah selesai menyanyikan lagu ini. Juri hanya tertunduk bisu tanpa kata. Ratusan penonton  mengusap mata. Aku hanya tersenyum dengan linangan air mata menatap mereka. 

Berdiri dihadapan ratusan orang, bermodal kan nama kecil dan tampang pas-pas an. Datang dari kalangan asing yang direndahkan, dimimpi pun aku tak pernah mendambakan kesempatan ini, karna terlalu tinggi inginku jika memimpikannya. Tapi, aku menciptakannya, menciptakan kesempatan yang ku perjuangkan sendiri dengan ambisi, hingga akhirnya aku berdiri dihadapan mereka. Dihadapan mereka yang dulu pernah menertawakanku, mencaci maki, dan memandangku sebelah mata, karna profesiku sebagai seorang pengamen jalanan.

Atas izin Allah, aku membuktikan pada mereka yang memandang rendah orang sepertiku. Mata-mata itu lah yang menjadi bukti kekaguman mereka atas kelebihanku. Dari mata itu keluar air mata yang meyakinkanku bahwa hari ini aku ada, bahwa hari ini aku dilihat, bahwa hari ini aku menjadi bagian mereka yang dulu sempat mengasingkanku.

Aku kembali pada memori ingatan 3 tahun silam. Ibu membelai rambutku, menatapku iba, seraya berkata “Jika dunia ini tidak memberimu kesempatan untuk bernyanyi, atau ia tidak ingin mendengarmu bernyanyi. Maka ibu adalah satu-satunya orang yang siap mendengarmu, mendengar suara indahmu,” ujarnya lembut padaku.

Perlahan airmataku berlinang menatap wanita renta yang memangku ku penuh kehangatan. Matanya yang sendu, dan senyumnya yang layu. Kian menggetarkan jiwaku yang sedang pilu, karna tertusuk belati yang datang dari lidah mereka, orang-orang kota.

Kembali ibu membelai rambutku dengan penuh kemanjaan, seraya berkata “Bernyanyilah untuk dirimu dan biarkan orang lain memberikan penilaian. Nikmatilah setiap nada yang keluar dari mulutmu, karna ia adalah bagian dari hatimu. Sayangku, jangan takut orang lain tidak mendengarkanmu bernyanyi. Percayalah, karna ibu yang akan selalu mendengarkan suara indahmu.”

Kembali mataku berbinar, wanita renta ini adalah kebanggaanku, harga diriku. Melihatnya bersedih membuatku berambisi untuk mengejar mimpi, dan hatiku berjanji untuk membeli lidah-lidah yang telah mengasingkanku dalam kehidupan ini.

Akhirnya, pendengar terbaik yang pernah kumiliki meninggalkanku pergi, jauh sekali tanpa pernah kembali. Mimpiku musnah seiring masuknya jasad wanita renta itu kedalam tanah. Semangat serta cita-citaku ikut tenggelam bersamanya. Yang tersisa hanyalah ambisi untuk tetap membanggakannya. Karna ia ingin melihatku berdiri dipanggung besar dengan suara musik yang bervariasi dan penonton yang penuh apresiasi.
Kembali harus ku ulangi, dan yang tersisa hanyalah ambisi untuk tetap membanggakannya. Membeli setiap airmatanya yang jatuh karna pernah memendam kecewa padaku. Pada akhirnya, kebanggaan adalah pembayaran yang tepat untuk mengganti airmatanya.

Aku terhanyut dalam lamun masa lalu. Tak lama aku tersentak kaget, karna sorak sorai dan tepuk tangan yang meriah dari orang-orang yang berdiri berhadapan denganku. Aku hanya tersenyum dengan linangan air mata menatap mereka. Lalu memejamkan mata untuk melihatnya tersenyum disurga dan berkata “Ibu, aku mencintaimu.”

Karya: Fahrial Jauvan Tajwardhani
Fb:  Fahrial Jauvan Tajwardhani






Pertengkaran Kecil

Pertengkaran Kecil

Mungkin antara aku dan dia sudah sangat dewasa untuk saling memahami. Setidaknya ada salah satu yang harus bijaksana dan sukarela mengalah. Karna pada dasarnya sesuatu yang menganut asas kegoisan akan berakhir tragis.

Antara aku dan dia punya masing-masing cara berpikir. Dan memang sudah jadi kodratnya, cara berpikir yang berbeda meruntuhkan salah satu perasaan.



Perbedaan adalah hal yang sangat lumrah dalam hubungan kami. Contoh sederhana, misalkan, saat kami pergi ke mall untuk membeli hadiah ulang tahun. Saat itu aku  memberikan pendapat, karna kebetulan kerabat kami seorang laki-laki jadi aku memberikan usulan untuk membelikannya jam tangan dengan alasan agar dia ingat waktu, antara bekerja dan beribadah. Menurutku hadiah tersebut sangat pantas, tapi menurut dia hadiah seperti itu kurang berkesan dan sudah sangat pasaraan. Katanya,"kita harus kekiniaan." Dia selalu berpikir masalah kualitas sedangkan aku selalu berpikir tentang esensi.

Pada suatu hari, kami terlibat pertengkaran. Aku sudah kehabisan sabar dan dia sudah kehabisan tenaga untuk bicara. Percekcokan kali ini terparah sepanjang perjalanan cinta kami. Sampai akhirnya, antara kami hanya diam dan saling merelakan satu sama lain pergi.

Beberapa hari berlalu, kami sampai di hari ke-5 perpisahan ini. Tak saling sapa, tak saling bertatap muka, dan tak saling bicara.

Satu hal yang harus kalian ketahui tentang perpisahan, KERINDUAN!

Ya. Aku sangat merindukannya, lebih dari hanya ingin mendengar suaranya. Tanpa aku sadari, dia adalah orang yang selalu memberiku tempat bersandar saat aku lelah beraktivitas. Tanpa aku rasakan, dia adalah orang yang paling setia menungguku datang. Tanpa pernah aku peduli dia adalah satu-satunya orang yang menginginkanku ada bahkan selalu ada. Dia selalu ingin bersandar dibahuku, tapi aku selalu berkata, "sayang aku lagi sibuk." lantas dia hanya mengusap bahuku saja. Dia selalu ingin aku tunggu saat pulang, tapi aku selalu berkata, "aku banyak kerjaan sayang."

Tanpa aku sadari, dia adalah orang yang paling menyayangiku. Keegoisannya adalah suatu kehormatan yang hendak dia berikan kepadaku. Dia tak ingin orang lain meremahkan dan melemahkanku, dia ingin menyanjungku, selalu. Tapi aku tak pernah menyadari itu.

Aku tak selamanya bisa menangkap sinyal cinta darinya tapi setelah pertengkaran kecil ini, aku mulai menyadari bahwa cinta memang harus ada yang mengalah, tapi bukan untuk mengalahkan, merendah tapi bukan untuk merendahkan.

Akhirnya, aku menemuinya dan mendapatkannya lagi dengan rasa dan kasih sayang berlipat ganda :)