Pertengkaran Kecil

Pertengkaran Kecil

Mungkin antara aku dan dia sudah sangat dewasa untuk saling memahami. Setidaknya ada salah satu yang harus bijaksana dan sukarela mengalah. Karna pada dasarnya sesuatu yang menganut asas kegoisan akan berakhir tragis.

Antara aku dan dia punya masing-masing cara berpikir. Dan memang sudah jadi kodratnya, cara berpikir yang berbeda meruntuhkan salah satu perasaan.



Perbedaan adalah hal yang sangat lumrah dalam hubungan kami. Contoh sederhana, misalkan, saat kami pergi ke mall untuk membeli hadiah ulang tahun. Saat itu aku  memberikan pendapat, karna kebetulan kerabat kami seorang laki-laki jadi aku memberikan usulan untuk membelikannya jam tangan dengan alasan agar dia ingat waktu, antara bekerja dan beribadah. Menurutku hadiah tersebut sangat pantas, tapi menurut dia hadiah seperti itu kurang berkesan dan sudah sangat pasaraan. Katanya,"kita harus kekiniaan." Dia selalu berpikir masalah kualitas sedangkan aku selalu berpikir tentang esensi.

Pada suatu hari, kami terlibat pertengkaran. Aku sudah kehabisan sabar dan dia sudah kehabisan tenaga untuk bicara. Percekcokan kali ini terparah sepanjang perjalanan cinta kami. Sampai akhirnya, antara kami hanya diam dan saling merelakan satu sama lain pergi.

Beberapa hari berlalu, kami sampai di hari ke-5 perpisahan ini. Tak saling sapa, tak saling bertatap muka, dan tak saling bicara.

Satu hal yang harus kalian ketahui tentang perpisahan, KERINDUAN!

Ya. Aku sangat merindukannya, lebih dari hanya ingin mendengar suaranya. Tanpa aku sadari, dia adalah orang yang selalu memberiku tempat bersandar saat aku lelah beraktivitas. Tanpa aku rasakan, dia adalah orang yang paling setia menungguku datang. Tanpa pernah aku peduli dia adalah satu-satunya orang yang menginginkanku ada bahkan selalu ada. Dia selalu ingin bersandar dibahuku, tapi aku selalu berkata, "sayang aku lagi sibuk." lantas dia hanya mengusap bahuku saja. Dia selalu ingin aku tunggu saat pulang, tapi aku selalu berkata, "aku banyak kerjaan sayang."

Tanpa aku sadari, dia adalah orang yang paling menyayangiku. Keegoisannya adalah suatu kehormatan yang hendak dia berikan kepadaku. Dia tak ingin orang lain meremahkan dan melemahkanku, dia ingin menyanjungku, selalu. Tapi aku tak pernah menyadari itu.

Aku tak selamanya bisa menangkap sinyal cinta darinya tapi setelah pertengkaran kecil ini, aku mulai menyadari bahwa cinta memang harus ada yang mengalah, tapi bukan untuk mengalahkan, merendah tapi bukan untuk merendahkan.

Akhirnya, aku menemuinya dan mendapatkannya lagi dengan rasa dan kasih sayang berlipat ganda :)



0 komentar:

Posting Komentar