“Kaulah ibuku cinta kasihku, terima kasihku takkan pernah terhenti, kau
bagai matahari yang selalu bersinar, sinari hidupku dengan kehangatanmu.”
Aku tak sanggup lagi bersuara, lagu yang berjudul ‘Ibu’ benar-benar
menghentikan nafasku.
Jantungku berdebar setelah selesai menyanyikan lagu ini.
Juri hanya tertunduk bisu tanpa kata. Ratusan penonton mengusap mata. Aku hanya tersenyum dengan
linangan air mata menatap mereka.
Berdiri dihadapan
ratusan orang, bermodal kan nama kecil dan tampang pas-pas an. Datang dari kalangan
asing yang direndahkan, dimimpi pun aku tak pernah mendambakan kesempatan ini,
karna terlalu tinggi inginku jika memimpikannya. Tapi, aku menciptakannya,
menciptakan kesempatan yang ku perjuangkan sendiri dengan ambisi, hingga
akhirnya aku berdiri dihadapan mereka. Dihadapan mereka yang dulu pernah
menertawakanku, mencaci maki, dan memandangku sebelah mata, karna profesiku
sebagai seorang pengamen jalanan.
Atas izin Allah, aku
membuktikan pada mereka yang memandang rendah orang sepertiku. Mata-mata itu
lah yang menjadi bukti kekaguman mereka atas kelebihanku. Dari mata itu keluar
air mata yang meyakinkanku bahwa hari ini aku ada, bahwa hari ini aku dilihat,
bahwa hari ini aku menjadi bagian mereka yang dulu sempat mengasingkanku.
Aku kembali pada memori
ingatan 3 tahun silam. Ibu membelai rambutku, menatapku iba, seraya berkata
“Jika dunia ini tidak memberimu kesempatan untuk bernyanyi, atau ia tidak ingin
mendengarmu bernyanyi. Maka ibu adalah satu-satunya orang yang siap
mendengarmu, mendengar suara indahmu,” ujarnya lembut padaku.
Perlahan airmataku
berlinang menatap wanita renta yang memangku ku penuh kehangatan. Matanya yang
sendu, dan senyumnya yang layu. Kian menggetarkan jiwaku yang sedang pilu,
karna tertusuk belati yang datang dari lidah mereka, orang-orang kota.
Kembali ibu membelai
rambutku dengan penuh kemanjaan, seraya berkata “Bernyanyilah untuk dirimu dan
biarkan orang lain memberikan penilaian. Nikmatilah setiap nada yang keluar
dari mulutmu, karna ia adalah bagian dari hatimu. Sayangku, jangan takut orang
lain tidak mendengarkanmu bernyanyi. Percayalah, karna ibu yang akan selalu
mendengarkan suara indahmu.”
Kembali mataku
berbinar, wanita renta ini adalah kebanggaanku, harga diriku. Melihatnya
bersedih membuatku berambisi untuk mengejar mimpi, dan hatiku berjanji untuk
membeli lidah-lidah yang telah mengasingkanku dalam kehidupan ini.
Akhirnya, pendengar
terbaik yang pernah kumiliki meninggalkanku pergi, jauh sekali tanpa pernah
kembali. Mimpiku musnah seiring masuknya jasad wanita renta itu kedalam tanah.
Semangat serta cita-citaku ikut tenggelam bersamanya. Yang tersisa hanyalah
ambisi untuk tetap membanggakannya. Karna ia ingin melihatku berdiri dipanggung
besar dengan suara musik yang bervariasi dan penonton yang penuh apresiasi.
Kembali harus ku
ulangi, dan yang tersisa hanyalah ambisi untuk tetap membanggakannya. Membeli
setiap airmatanya yang jatuh karna pernah memendam kecewa padaku. Pada
akhirnya, kebanggaan adalah pembayaran yang tepat untuk mengganti airmatanya.
Aku terhanyut dalam
lamun masa lalu. Tak lama aku tersentak kaget, karna sorak sorai dan tepuk
tangan yang meriah dari orang-orang yang berdiri berhadapan denganku. Aku hanya
tersenyum dengan linangan air mata menatap mereka. Lalu memejamkan mata untuk
melihatnya tersenyum disurga dan berkata “Ibu, aku mencintaimu.”
Karya: Fahrial Jauvan Tajwardhani
Fb: Fahrial Jauvan Tajwardhani